Jumat, 15 Februari 2013

MAKALAH PERTANIAN TENTANG TANAMAN BUNCIS SMAN 1 BANTAN



A.   Sejarah Pertama Tanaman Buncis



Kacang Buncis (Phaseolus vulgaris L.) berasal dari Amerika, sedangkan kacang buncis tipe tegak (kidney bean) atau kacang jogo adalah tanaman asli lembah Tahuacan-Meksiko. Penyebarluasan tanaman buncis dari Amerika ke Eropa dilakukan sejak abad 16. Daerah pusat penyebaran dimulai di Inggris (1594), menyebar ke negara-negara Eropa, Afrika, sampai ke Indonesia.
Pembudidayaan tanaman buncis di Indonesia telah meluas ke berbagai daerah. Tahun 1961-1967 luas areal penanaman buncis di Indonesia sekitar 3.200 hektar, tahun 1969-1970 seluas 20.000 hektar dan tahun 1991 mencapai 79.254 hektar dengan produksi 168.829 ton. Di Indonesia, buncis polong yang lazim dibudidayakan hanyalah varietas hijau, dengan biji putih, tipe merambat. Sementara buncis biji yang paling banyak ditanam, adalah varietas berbiji merah (kacang merah), yang merupakan tipe tegak. Namun buncis polong, lebih luas pembudidayaannya dibanding buncis biji. Benih buncis polong tipe merambat, ada yang hibrida eks impor. Ada pula hasil budidaya breeder Indonesia. Para petani, umumnya memproduksi benih sendiri untuk keperluan mereka. Benih produksi para petani ini ada pula yang dijual di kios benih di pasar-pasar tradisional. Benih tradisional ini memang kalah produktif jika dibanding dengan benih-benih hibrida eks impor. Namun relatif lebih tahan terhadap penyakit tanaman. Buncis yang ditanam di Indonesia merupakan hasil produksi dari kurang lebih 100 kultivar yang berasal dari Hawai, Belanda dan Australia. Varietas buncis yang mempunyai nilai produksi tinggi adalah Sutera, Horti 3, Lebat-1, Snap Bean G13 Snap 612 dan Sora
Buncis dalam perdagangan dunia disebut  Common bean (Phaseolus vulgaris). Genus Phaseolus sendiri terdiri dari sekitar 50 spesies, yang seluruhnya berasal dari Amerika Tropis. Paling tidak ada empat spesies dari 50 spesies Phasealus yang sudah mulai dibudidayakan sejak sebelum Columbus datang ke benua Amerika. Sekarang, buncis sudah dibudidayakan di seluruuh dunia, mulai dari kawasan tropis, sub tropis, gurun bahkan di negeri yang bermusim dingin. Di negeri yang beriklim sub tropis atau dingin, budidaya buncis hanya bisa dilakukan selama musim panas, atau di dalam greenhouse. Di kawasan gurun, budidaya buncis juga hanya bisa dilakukan di dalam greenhouse, atau di alam terbuka namun dengan diberi tanaman pelindung untuk menahan angin.

B.   Sentra Penanaman
Daerah yang sejak lama menjadi sentra pertanaman buncis antara lain Kotabatu (Bogor), Pengalengan dan Lembang (Bandung) dan Cipanas (Cianjur). Sedangkan pusat terbesar pertanaman kacang ijo anatara lain daerah Garut (Jawa Barat).


C.   Manfaat Tanaman
Peningkatan produksi buncis mempunyai arti penting dalam menunjang peningkatan gizi masyarakat, sekaligus berdaya guna bagi usaha mempertahankan kesuburan dan produktivitas tanah. Kacang buncis merupakan salah satu sumber protein nabati yang murah dan mudah dikembangkan.
Kacang jogo/kacang merah yang dikonsumsi bijinya, mengandung protein 21-27%, sehingga menu makanan yang terdiri atas campuran nasi dan kacang jogo (90%+10%) merupakan komposisi makanan yang mencukupi karbohidrat dan protein tubuh.
Selain itu, manfaat buncis lainnya adalah :
·         Buncis merupakan sumber protein nabati yang sangat penting dan banyak mengandung vitamin A, vitamin B, dan C,
·         Khasiat buncis adalah mampu melancarkan sistem pencernaan.
·         Mencegah konstipasi,
·         Menstimulasi sistem kekebalan tubuh secara alami,
·         Menetralkan gula darah,
·         Mengobati tukak lambung,
·         Mencegah kanker usus besar dan mampu memperkecil resiko terkena kanker ganas.


D.   Jenis Tanaman
Taksonomi tanaman buncis diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom    : Plant Kingdom
Divisio        : Spermatophyta
Sub divisio : Angiosspermae
Kelas          : Dicotyledonae
Sub kelas    : Calyciflorae
Ordo           : Rosales (Leguminales)
Famili         : Leguminosae (Papilionaceae)
Sub famili   : Papilionoideae
Genus         : Phaseolus
Spesies        : Phaseolus vulgaris L.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoUUnbJGkv56ELpFuPjMab76DDQ7AhSxjbrF65tj4FA3aersRKd2yzOeqNM3yeWCmvCd0s01CMWecrcIn8JOiLBPUopu7VSb-Xo1zyIbYCg2EhBIr97yd7Fz9AeLdbMKlBTz5Z8RE_MRbC/s200/BUNCIS.jpeg
Berikut ini adalah beberapa jenis kacang buncis dari berbagai segi, diantaranya :
a)      Dilihat dari tanamannya,
Dikenal ada dua macam buncis, yakni buncis merambat dan buncis tegak. Buncis merambat dibudidayakan dengan ajir (lanjaran tempat merambat tanaman). Ajir biasanya berupa bilah bambu atau batang-batang perdu. Sementara buncis tegak dibudidayakan tanpa ajir. Produktivitas bincis merambat, umumnya lebih tinggi dibanding buncis tegak.
b)      Dilihat dari cara bagian yang dikonsumsi,
Buncis dibedakan menjadi jenis polong dan biji. Buncis polong dikonsumsi polong mudanya. Polong buncis masih dibedakan menjadi polong biasa (panjang 12 cm), dan baby buncis (panjang 7 cm). Baby buncis dipetik ketika ukurannya Buncis biji dibiarkan sampai tua dikeringkan dan diambil bijinya untuk dikonsumsi. Buncis polong =-]’
umumnya berbiji sedikit, polongnya berdaging tebal, renyah dengan serat yang hampir tidak ada. Buncis biji, berpolong tipis, alot karena banyak seratnya. Tetapi polong jenis buncis ini berbiji banyak dengan ukuran besar-besar. Selain polong dan bijinya, buncis juga bisa dikonsumsi daunnya.

c)      Dari warna daun, polong dan bijinya,
Buncis juga dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam. Batang, daun dan kulit polong buncis bisa dibedakan menjadi buncis hijau dan ungu. Variasi warna lebih banyak terdapat pada biji buncis. Mulai dari buncis biji putih, ungu, hitam, merah, cokelat, kuning pink dan loreng. Umumnya yang dipasarkan di Indonesia buncis biji merah dan loreng. Buncis putih, ungu, kuning, pink, cokelat dan hitam, tidak lazim dibudidayakan dan dipasarkan di Indonesia. Di masyarakat buncis ini disebut sebagai kacang merah. Selain untuk campuran sayur lodeh, kacang merah juga biasa untuk sup. Kandungan nutrisi kacang merah per 100 gram adalah: karbohidrat 60 gram, gula 2 gram, serat 25 gram, lemak 1 gram, protein 24 gram, air 12 gram.

E.   Daerah Tumbuh
A.    Iklim
1.       Curah hujan
Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan curah hujan 1.500 - 2.500 mm per tahun. Tanaman ini paling baik ditanam pada akhir musim kemarau (menjelang musim hujan) atau akhir musim hujan (menjelang musim kemarau). Pada saat peralihan, air hujan tidak begitu banyak sehingga sangat cocok untuk fase pertumbuhan awal tanaman buncis, fase pengisian, dan pemasakan polong. Pada fase tersebut dikhawatirkan terjadi serangan penyakit bercak bila curah hujan terlalu tinggi.

2.       Suhu
Suhu udara yang paling baik untuk pertumbuhan buncis adalah 20 - 25°C. Pada suhu kurang dari 20 °C tanaman tidak dapat melakukan proses fotosintesis dengan baik, akibatnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat dan jumlah polong yang dihasilkan akan sedikit. Sebaliknya, pada suhu udara yang lebih tinggi dari 25 °C banyak polong yang hampa. Hal ini terjadi karena proses pernapasan (respirasi) lebih besar daripada proses fotosintesis pada suhu tinggi.

3.      Cahaya
Cahaya matahari diperlukan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Umumnya tanaman buncis membutuhkan cahaya matahari yang besar atau sekitar 400 - 800 footcandles. Oleh karena itu, tanaman buncis termasuk tanaman yang tidak membutuhkan naungan. Kelembaban Udara Kelembapan udara yang diperlukan tanaman buncis sekitar 50 - 60 % (sedang). Kelembapan ini agak sulit diukur, tetapi dapat diperkirakan dari lebat dan rimbunnya tanaman. Kelembapan yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi terhadap tingginya serangan hama dan penyakit. Beberapa jenis aphis (kutu) dapat berkembang biak dengan cepat pada kelembapan 70 - 80 %.

B.     Media Tanam
Jenis tanah yang cocok untuk tanaman buncis adalah andosol dan regosol karena mempunyai drainase yang baik. Tanah andosol hanya terdapat di daerah pegunungan yang mempunyai iklim sedang dengan curah hujan diatas 2500 mm/tahun, berwarna hitam, bahan organiknya tinggi, berstektur lempung hingga debu, remah, gembur dan permeabilitasnya sedang. Tanah regosol berwarna kelabu, coklat dan kuning, berstektur pasir sampai berbutir tunggal dan permeabel.
Sifat-sifat tanah yang baik untuk buncis: gembur, remah, subur dan keasaman (pH) 5,5-6. Sedangkan yang ditanam pada tanah pH < 5,5 akan terganggu pertumbuhannya (pada pH rendah terjadi gangguan penyerapan unsur hara). Beberapa unsur hara yang dapat menjadi racun bagi tanaman antara lain: aluminium, besi dan mangan.
C.     Ketinggian Tempat
Tanaman buncis tumbuh baik di dataran tinggi, pada ketinggian 1000-1500 m dpl. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk ditanam pada daerah dengan ketinggian antara 300-600 meter. Dewasa ini banyak dilakukan penelitian mengenai penanaman buncis tegak di dataran rendah ketinggian: 200-300 m dpl., dan ternyata hasilnya memuaskan. Beberapa varietas buncis tipe tegak seperti Monel, Richgreen, Spurt, FLO, Strike dan Farmers Early dapat ditanam di dataran rendah pada ketinggian antara 200-300 m dpl.


F.    Pembibitan
1.      Persyaratan Benih/Bibit
Apabila akan mengusahakan suatu usaha pertanaman, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah pemilihan benih. Benih yang digunakan harus benar-benar benih yang baik. Benih yang baik berasal dari pohon induk yang baik. Benih yang baik harus mempunyai persyaratan tertentu yakni: mempunyai daya tumbuh minimal 80-85%, bentuknya utuh, bernas, warna mengkilat, tidak bernoda coklat terutama pada mata bijinya, bebas dari hama dan penyakit, seragam, tidak tercampur dengan varietas lain, serta bersih dari kotoran. Benih yang baik mempunyai daya tumbuh yang tinggi, dapat disimpan lama, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, tumbuhnya cepat dan merata, serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi tinggi.

2.      Penyiapan Benih
Memilih benih yang baik agak sulit. Karena itu disarankan untuk membeli benih yang bersertifikat. Benih ini telah diuji coba oleh balai pengujian benih, sehingga dijamin kualitasnya. Benih bersertifikat telah banyak dijual ditoko-toko sarana pertanian.
Benih yang digunakan untuk penanaman buncis harus benih yang baik, yaitu berasal dari tanaman induk yang baik pula. Benih yang baik memenuhi persyaratan tertentu, antara lain mempunyai daya tumbuh minimal 80 %, bentuknya utuh, bernah, warna mengkilat, tidak bernoda cokelat terutama pada mata bijinya, bebas dari hama dan penyakit, seragam, tidak tercampur dengan varietas lain, dan bersih dari kotoran.
Benih buncis yang dibutuhkan dalam jumlah tertentu, tetapi kadang-kadang benih yang dibeli jumlahnya melebihi yang dibutuhkan. Sehingga, masalahnya sekarang adalah bagaimana menyimpan kelebihan benih itu. Benih yang baik mempunyai daya tumbuh yang tinggi, dapat disimpan lama, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, tumbuh cepat dan seragam, serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi tinggi. Agar benih C dengan kelembapan°dapat disimpan lama maka perlu disimpan pada suhu -18 - 0  relatif 50 - 60%. Kandungan air benih juga sangat menentukan terhadap daya simpan benih. Kandungan air yang baik untuk benih sekitar 14 %. Bila persyaratan di atas sudah terpenuhi maka daya simpan benih dapat mencapai 3 tahun.

G.  Persiapan Lahan
1.     Pembukaan Lahan
Pengolahan lahan adalah semua pekerjaan yang ditujukan pada tanah untuk menciptakan media tanam yang ideal, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pembersihan rumput-rumputan, penggemburan tanah, dan pembuatan parit-parit drainase adalah termasuk pengolahan tanah.
Pembersihan rumput-rumputan (gulma) bermaksud agar tidak terjadi persaingan makanan dengan tanaman pokoknya. Cara membersihkannya dapat secara manual, yaitu dengan jalan mencabut gulma dengan tangan, cangkul, cetok atau traktor (bila lahannya luas). Pemberantasan hama dapat dilakukan dengan pestisida organik, yaitu dengan bantuan  bakteri EM yang berasal dari pupuk cair organik.
Setelah bersih dari gulma pekerjaan selanjutnya adalah membajak tanah. Tanah dibajak dan dicangkul 1-2 kali sedalam 20-30 cm. Untuk tanah-tanah berat pencangkulan dilakukan dua kali dengan jangka waktu 2-3 minggu, untuk tanah-tanah ringan pencangkulan cukup dilakukan sekali saja.
2.     Pembuatan Bedengan
Selanjutnya untuk memudahkan pekerjaan pemeliharaan dibuat bedengan-bedengan dengan ukuran panjang 5 meter, lebar 1 meter dan tinggi 20 cm. Jarak antar bedengan 40-50 cm, selain sebagai jalan juga untuk saluran pembuangan air (drainase). Untuk areal yang tidak begitu luas, mislnya tanah pekarangan, tidak dibuat bedengan tetapi menggunakan guludan tanah selebar 20 cm, panjang 5 meter, tinggi 10-15 cm dan jarak antar guludan 70 cm.

3.     Pengapuran
Umumnya tanah di Indonesia bersifat asam (pH <7). Untuk menaikkan pH tersebut diperlukan pengapuran, menggunakan batu kapur kalsit, gips, kadolomite, atau batu kapur talk. Dosis untuk menaikan pH sebesar 0,1 sebesar 480 kg/ha. Pemberian kapur sebaiknya dilakukan 2-3 minggu sebelum penanaman, dengan cara sebagai berikut:
a)   Tanah digemburkan dengan mencakulnya.
b)   Kapur disebar merata.
c) Tanah dicangkul kembali agar kapur dapat bercampur dengan tanah secara merata.

4.     Pemupukan
Untuk meningkatkan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang atau kompos sebanyak 15-20 kg/10 m2 atau kira-kira 3 kaleng penuh bekas minyak tanah. Pemberian pupuk kandang dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah agar lebih gembur, airasi dan drainase lebih baik. Cara menempatkan pupuk kandang maupun pupuk organik ialah dengan menaburkan disepanjang larikan.
Saat pemberian pupuk dasar, dapat juga dilakukan pemberian pestisida organik untuk nematoda. Nematoda Meloidogyne sp. sering menyerang buncis.

H.  Teknik Penanaman
Air yang dibutuhkan buncis hanya secukupnya, sehingga saat menanam yang paling baik yaitu saat peralihan. Hal ini sangat cocok untuk fase pertumbuhan buncis, dan fase pengisian serta pemasakkan polong. Pada fase ini di khawatirkan akan terjadi serangan penyakit bercak bila curah hujannya terlalu tinggi. Untuk mengatasi curah hujan yang terlalu tinggi dapat dibuat saluran-saluran drainase, ini kalau penanamannya dilakukan pada musim hujan. Sebaliknya, pada musim kemarau perlu dilakukan penyiraman sesering mungkin terutama pada saat awal perkecambahan.

a.      Penentuan Pola Tanam
Tanaman buncis ditanam dengan pola pagar atau barisan karena penanamannya dilakukan pada bedengan atau guludan. Pada pola ini, jarak antar tanaman lebih sempit daripada jarak antar barisan tanamannya. Dengan pola tanam barisan akan mempermudah pekerjaan selanjutnya, seperti pemeliharaan, pengairan, pemupukan, pembumbunan dan panen.
Jarak tanaman yang digunakan adalah 20 x 50 cm, baik untuk tanah datar atau tanah miring. Dan bila kesuburan tanahnya tinggi, maka sebaiknya menggunakan jarak tanam yang lebih sempit lagi, yaitu 20 x 40 cm. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari tumbuhnya gulma, karena gulma akan lebih cepat tumbuh pada tanah yang subur. Penentuan jarak tanam ini harus benar-benar diperhatikan karena berhubungan dengan tersedianya air, hara dan cahaya matahari.

b.      Pembuatan Lubang Tanam
     Setelah menentukan jarak tanam, kemudian membuat lubang tanam dengan cara ditugal. Agar lubang tanam itu lurus, sebelumnya dapat diberi tanda dengan ajir, bambu, penggaris atau tali. Tempat yang diberi tanda tersebut juga ditugal. Kedalaman tugal 4-6 cm untuk tanah-tanah yang remah dan gembur, sedangkan untuk tanah liat dapat digunakan ukuran 2-4 cm. Hal ini disebabkan pada tanah liat kandungan airnya cukup banyak, sehingga dikhawatirkan benih akan busuk sebelum mampu berkecambah.

c.       Cara Penanaman
Tanaman buncis tidak memerlukan persemaian karena termasuk tanaman yang sukar dipindahkan, sehingga benih buncis dapat langsung ditanam di lahan/kebun. Tiap lubang tanam dapat diisi 2-3 butir benih. Setelah itu lubang tanam ditutup dengan tanah.

I.      Pemeliharaan Tanaman
a)      Penyulaman
Berikutnya Biji buncis dapat tumbuh setelah lima hari sejak tanam, benih yang tidak tumbuh harus segera diganti (disulam) dengan benih yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan dibawah umur 10 hari setelah tanam, agar pertumbuhan bibit-bibit tidak berbeda jauh dan memudahkan pemeliharaan.

b)      Pengguludan
Peninggian guludan atau bedengan dilakukan pada saat tanaman berumur lebih 20 dan 40 hari. Lebih baik dilakukan pada saat musim hujan. Tujuan dari peninggian guludan adalah untuk memperbanyak akar, menguatkan tumbuhnya tanaman dan memelihara struktur tanah.
c)      Pemangkasan
Untuk memperbanyak ranting-ranting agar diperoleh buah yang banyak, tanaman buncis perlu dipangkas. Pemangkasan sebatas pembentukan sulurnya. Pelaksanaan pemangkasan dilakukan bila tanaman telah berumur 2 dan 5 minggu. Pemang-kasan juga dimaksudkan untuk mengurangi kelembapan di dalam tanaman sehingga dapat menghambat perkembangan hama penyakit. Pucuk-pucuk tanaman hasil pangkasan dapat digunakan sebagai sayuran.

d)     Pemupukan
Tindakan pemupukan pada tanaman buncis perlu dilakukan dengan alasan hara tanaman yang disediakan oleh tanaman dalam jumlah yang terbatas. Sewaktu-waktu zat hara akan berkurang karena tercuci kadalm lapisan tanah, terbawa erosi bersama larutan tanah, hilang melalui proses evaporasi (penguapan), dan diserap oleh tanaman. Apabila keadaan tersebut dibiarkan terus menerus tanpa adanya perbaikan, maka makin lama persediaan hara dalam tanah makin berkurang sehingga tanaman tumbuhnya merana. Untuk mencukupi kebutuhan hara tersebut, perlu tambahan dari luar melalui pemupukan. Diharapkan dengan pemupukan akan mengembalikan dan meningkatkan kandungan hara dalam tanah, sehingga tanaman akan tumbuh subur dan produksinya akan melimpah.
Pemupukan dimaksudkan untuk memberikan tambahan unsur hara bagi tanaman, karena hara yang disediakan tanah tidak mencukupi untuk pertumbuhan tanaman. Berkurangnya ketersediaan hara dalam tanah disebabkan adanya proses erosi, pencucian, evaporasi (penguapan), atau diserap oleh tanaman. Pupuk yang diberikan terdiri dari pupuk organik dan pupuk kimia. Pupuk organik berupa pupuk kandang atau kompos dicampur dengan tanah bedengan sebanyak 15 - 20 kg/10 m2. Pupuk anorganik yang diberikan berupa Urea, SP36, dan KCl masing-masing sebanyak 200 kg, 250 kg, dan 120 kg untuk tiap hektar.
Pemupukan ini dapat dilakukan pada umur 14-21 hari setelah tanam, caranya cukup ditunggal kurang lebih 10 cm dari tanaman. Setelah itu ditutup kembali dengan tunggal atau diinjak dengan kaki.

e)      Pengairan
Air yang diberikan alam sangat bervariasi dan seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman. Untuk itu, diperlukan pengaturan pengairan. Biasanya pengairan dilakukan bila penanamannya dilakukan pada musim kemarau, yaitu pada umur 1-15 hari. Pelaksanaannya dilakukan 2 kali sehari, setiap pagi dan sore. Bila penanamannya dilakukan pada musim hujan, yang perlu diperhatikan adalah masalah pembuangan airnya. Kelebihan air dapat disalurkan melalui parit-parit yang telah dibuat di antara bedengan atau guludan.
Pada daerah seperti malino, buncis tidak terlalu perlu sering-sering di siram, berbeda lagi kalau pada musim kemarau, buncis di siram pada pagi dan sore hari. Namun pada musim hujan, buncis tidak perlu di siram karna curah hujan yang tinggi.
f)       Pemeliharaan Lain
Untuk tanaman buncis tipe merambat perlu diberi turus atau lanjaran, supaya pertumbuhannya dapat lebih baik. Biasanya turus atau lanjaran ini dibuat dari bambu dengan ukuran panjang 2 m dan lebar 4 cm. Turus tersebut ditancap didekat tanaman. Setiap dua batang turus yang berhadapan diikat menjadi satu pada bagian ujungnya, sehingga akan tampak lebih kokoh. Pelaksanaan pemasangan turus dapat dilakukan bersamaan dengan peninggian guludan yang pertama, yaitu pada tanaman berumur 20 hari.

J.     Panen dan Pasca Panen

1)      Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Pemanenan dapat dilakukan saat tanaman berumur 60 hari dan polong memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Warna polong agak muda dan suram.
b) Permukaan kulitnya agak kasar.
c) Biji dalam polong belum menonjol.
d) Bila polong dipatahkan akan menimbulkan bunyi letup.

2. Cara Panen
Dalam menentukan saat panen harus setepat mungkin sebab bila sampai terlambat memetiknya beberapa hari saja maka polong bincis dapat terserang penyakit bercak Cercospora. Penyakit tersebut sebenarnya hanya menyerang daun dan bagian tanaman lainnya, tetapi karena saat pemetikan yang terlambat maka penyakit tersebut berkembang sampai ke polong-polongnya.
Cara panen yang dilakukan biasanya dengan cara dipetik dengan tangan. Penggunaan alat seperti pisau atau benda tajam yang lain sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan luka pada polongnya. Kalau hal ini terjadi maka cendawan atau bakteri dapat masuk kedalam jaringan, sehingga kualitas polong menurun.

3. Periode Panen
Pelaksanaan panennya dapat dilakukan secara bertahap, yaitu setiap 2-3 hari sekali. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh polonh yang seragam dalam tingkat kemasakkannya. Pemetikan dihentikan pada saat tanaman berumur lebih dari 80 hari, atau kira0kira sejumlah 7 kali panen.

4. Prakiraan Produksi
Bila dalam pelaksanaan budidaya tanaman buncis sudah baik, artinya sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan diatas maka produksi perhektar dapat mencapai 150 kuintal polong segar.

2)      Pascapanen
1. Sortasi
Sortasi meliputi kegiatan-kegiatan membuang atau memisahkan hasil berdasarkan kualitas dan mengadakan klarifikasinya. Polong buncis yang cacat akibat serangan hama dan penyakit, polong yang tua maupun polong yang patah akibat panen yang kurang baik, semuanya kita pisahkan. Polong-polong yang demikian hanya akan mengurangi nilai pasar dan nilai beli dari komoditi tersebut.
Proses sortasi ini biasanya dilakukan ditempat-tempat pengumpulan yang diletakkan tidak jauh dari lahan pertanian. Tempat dilakukannya sortasi ini harus cukup terlindung, supaya hasil yang baru dipanen tidak lekas menjadi layu.

2. Penyimpanan
Buncis termasuk sejenis sayuran yang tidak tahan disimpan lama dalam keadaan segar, cepat rusak atau busuk sehingga disebut sebagai perishable food. Hal ini terjadi karena setelah dipanen masih terjadi respirasi dan transpirasi sehingga lama kelamaan komoditi ini mengalami kemunduran (deterioration). Dengan kemunduran tersebut menyebabkan komoditi menjadi lebih peka terhadap serangan jasad renik sehingga komoditi menjadi rendah mutunya dan akhirnya membusuk.
Mengingat sifat buncis tersebut maka diperlukan penyimpanan khusus bila buncis tidak langsung dikonsumsi. Cara penyimpanan yang biasa dilakukan adalah sistem refrigarasi (pendinginan), dengan suhu 0-4,4 derajat C dan kelembaban 85-90%. Pada keadaan yang demikian, maka umur kesegaran buncis bisa mencapai 2-4 minggu. Ruangan penyimpanan diusahakan agar udara segar dapat beredar dan selalu berganti.
Yang menjadi masalah adalah, masih ada sebagian orang yang beranggapan bahwa dengan suhu dan kelembaban yang lebih rendah lagi akan menghasilkanumur kesegaran yang lebih lama pula. Padahal pendapat ini kurang benar pula. Penyimpanan pada suhu yang lebih rendah dengan suhu yang dianjurkan memberikan hasil yang sama, sedangkan kelembaban yang terlampau rendah, akan menyebabkan komoditi menjadi cepat layu.
3. Pengepakkan/Pengemasan
Pada umumnya pengepakkan buncis dilakukan dengan menggunakan karung goni. Untuk pengiriman jarak jauh ke luar negri lebih baik menggunakan peti kayu, ukuran dan bentuknya sebaiknya seragam supaya kelihatan rapi. Hal yang harus diperhatikan dalam membuat alat mengepak yaitu harus mempunyai lubang angin untuk memungkinkan pergantian udara di dalam pengepak dan mudah diangkut oleh satu orang.
Setelah dilakukan pengepakan, maka jangan lupa menuliskan nama pengusaha, nama komoditi, serta keterangan lain yang dibutuhkan pada alat pengepak. Kebiasan buruk berupa pemberian kode nama pemilik hendaknya dihilangkan, sebab yang mengenal kode tersebut hanya perwakilan si pengusaha atau pedagang itu sendiri.
Dengan pengepakan yang baik, banyak keuntungan yang diperoleh, antara lain dalam pengangkutan, komoditi akan terlindung dari kerusakan fisik, mudah dalam penghitungannya dan mudah dalam penyusunan baik di dalam alat pengangkut maupun di dalam gudang penyimpanan.
Biasanya pengangkutan hasil panen dilakukan sesuai dengan tujuan pengirimnya. Pengangkutan dengan volume kecil dan ditujukan kepedagang-pedagang setempat dapat dilakukan dengan tenaga manusia, hewan atau kendaran bermotor. Pengangkutan dalam jarak jauh dengan volume yang lebih besar dapat menggunakan kapal, kereta api, atau pesawat terbang. Dalam memilih alat pengangkutan ini, yang penting adalah kelancaran atau cepatnya sampai tujuan dan dipilih yang biayanya murah. Selain itu alat tersebut harus bebas dari bau-bauan karena dapat meresap ke dalam hasil yang diangkut.
Dalam menyusun karung maupun peti harus teratur, terutama yang menyangkut letak dan tinggi susunan. Letak susunan karung hendaknya diberi antara sehingga peredaran udara akan lebih leluasa. Tinggi susunan juga diperhatikan, jangan sampai karung atau peti paling bawah rusak karena terkena beban yang terlalu berat. Agar komoditi tidak cepat rusak maka sebaiknya didalam alat pengangkut diberi pendingin terutama untuk angkutan jarak jauh.

Pengepakan untuk Konsumen
Umumnya konsumen menghendaki buncis dalam keadaan segar, bersih, sehat dan mempunyai ukuran yang sama. Untuk itu diperlukan pengepakan lagi sebelum sampai kekonsumen. Pengepakan ini telah dilakukan oleh produsen yang memasok buncis kepasar swalayan. Tiap pak mempunyai berat sekitar 1-1,5 kg dan berisi buncis yang seragam ukurannya.

K.  Penanganan Hama dan Penyakit

1.     Hama
A.    Kumbang daun
Kumbang Henose-pilachna signatipennis atau Epilachna signatipennis, sering disebut kumbang daun epilachna yang termasuk famili Curculionadae. Bentuk tubuhnya oval, warna merah atau coklat kekuningan, panjang antara 6-8 mm.
a.          Gejala :
Daun kelihatan berlubang-lubang bahkan kadang-kadang tinggal kerangka atau tulang-tulang daunnya saja. Tanaman menjadi kerdil dan polongnya kecil-kecil.

b.          Pengendalian
v  bila sudah terlihat adanya telur, larva, maupun kumbangnya, maka dapat langsung dibunuh dengan tangan; 
v  dengan pestisida organik (dengan campuran bw.putih, cabe rawit, jahe, jeruk, sambiloto) ; 
v  atau dapat juga diberantas dengan insektisida Lannate 25 WP, dengan konsentrasi 1,5-3 cc/l air atau 300-6001 larutan setiap hektar ;
v  rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan inang.


B.     Ulat Penggerek polong (Etiella zinckenella)

Ulat Etiella zinckenella yang termasuk dalam famili Pyralidae. Penyebarannya meliputi daerah tropis dan subtropis.
a.      Gejala: 
Polong yang masih muda mengalami kerusakan, bijinya banyak yang keropos. Kerusakkan ini tidak sampai mematikan tanaman buncis.
b.      Pencegahan :
http://faedahjaya.com/images/stories/typo/special-7.pngLakukan sanitasi lahan yang benar.
http://faedahjaya.com/images/stories/typo/special-7.pngPasang perangkap kupu-kupu di beberapa tempat .
http://faedahjaya.com/images/stories/typo/special-7.pngBalurkan perangkap kupu – kupu yang berbentuk lem, seperti Cherry Glue dan Glumon,menggunakan kuas ke botol bekas air mineral atau potongan pipa PVC.

c.       Pengendalian :
Ø  Dilakukan dengan tanam serentak,
Ø  usahakan pula tidak ada tanaman inang disekitar tanaman buncis, misalnya tanman orok-orok perlu juga dilakukan penyemprotan dengan insektisida. Insektisida yang bisa digunakan di antaranya Proclim 5 SG, Decis 25 EC, dan Buldok 25 EC. Gunakan dosis sesuai anjuran yang tertera di label kemasan.
Ø  penyemprotan dengan pestisida organik (yang dicampur dengan bw.putih, cabe rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto) . Waktu penyemprotan dilakukan segera setelah diketahui adanya serangan dan dapat diulangi beberapa kali menurut keperluan.


C.    Lalat kacang
Lalat Agromyza phaseoli yang termasuk dalam famili Agromyzidae. Lalat betina dan jantan mempunyai ukuran yang berbeda. Lalat betina mempunyai panjang tubuh kurang lebih 2,2 mm, sedang yang jantan hanya 1,9 mm.
a.      Gejalanya :
Daun berlubang-lubang dengan arah tertentu, yaitu dari tepi daun menuju tangkai atau tulang daun, gejala lebih lanjut berupa pangkal batang yang membengkok/pecah kemudian tanaman menjadi layu,berubah kuning, dan akhirnya mati yang masih muda. Apabila tidak mati maka tumbuhnya kerdil sehingga produksinya sedikit.

b.      Pengendalian :
*      Setelah biji buncis ditanam sebaiknya segera diberi penutup jerami daun pisang, penanaman dilakukan secara serentak.
*      Bila tanaman sudah terserang secara berat maka segeralah dicabut dan dibakar atau dipendam dalam tanah, apabila erangan belum terlalu berat maka segeralah diberi insektisida.
*      Namun, apabila serangan masih kecil, disarankan agar menggunakan pestisida organik (dengan campuran bw.putih, cabe rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto). Penyemprotan dilakukan sebanyak 2-3 kali sampai umur 20 hari, tergantung berat ringan serangan.

D.     Kutu daun

Aphis gossypii, yang termasuk dalam famili Aphididae. Sifatnya polibag dan kosmopolitan yaitu dapat memakan segala tanaman dan tersebar di seluruh dunia. Tanaman inangnya bermacam-macam, antara lain kapas, semangka, kentang, cabai, terung, bunga sepatu dan jeruk. Warna kutu ini hijau tua sampai hitam atau kuning coklat.


a.      Gejala :
Akan lebih jelas terlihat pada tanaman-tanaman yang masih muda. Bila serangannya hebat, maka pertumbuhannya Menjadi kerdil dan batang memutar (mimilin). Daunnya menjadi keriting dan kadang berwarna kuning.

b.      Pengendaliannya :
·         dengan cara memasukkan musuh alaminya yaitu lembing, lalat dan jenis dari Coccoinellidae, atau dengan menggunakan insektisida Orthene 75 Sp.
·         menggunakan pestisida organik (dengan campuran bw.putih, bw.merah, cabe rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto)   Bila setelah disemprotkan masih terdapat hamanya, maka penyemprotannya dapat diulang setiap 7-14 hari sekali.
 

E.     Ulat jengkal semu

Ulat jengkal semu ada dua dua spesies yang terdapat diperkebunan buncis, yaitu Plusia signata (Phytometra signata) dan P. chalcites. Keduanya termasuk kedalam famili Plusiidae. Panjang ulat P. chalcites kurang lebih 2 cm berwarna hijau dengan garis samping berwarna lebih muda. 
a.      Gejalanya :
Dibawah daun terdapat telur yang bergerombol. Setelah menetas ulatnya akan memakan daun-daun baik yang muda maupun yang tua. Daun menjadi berlubang bahkan dapat habis sama sekali. Akibatnya, tanaman menjadi kerdil karena tidak sempurna melakukan fotosintetis.

b.      Pengendaliannya :
v  Dapat dibunuh satu persatu atau dengan sanitasi, yaitu membersihkan gulma-gulma yang dapat dijadikan sebagai tempat persembunyian hama tersebut.
v  Bisa juga dengan menggunakan insektisida Hotathion 40Ec.
v  secara mekanik, yaitu dibunuh satu persatu, namun tidak efektif; 
v  Dengan pestisida organik (dengan campuran bw.putih, cabe rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto) dengan dosis di perbesar. 

F.      Ulat penggulung daun ( Lamprosema indicate )

Ulat Lamprosema indicata dan L. diemenalis, keduanya termasuk dalam famili Pyralidae. 

a.      Gejalanya :
Daun kelihatan seperti menggulung dan terdapat ulat yang dilindungi oleh benang sutera dan kotoran. Polongnya sering pula ikut direkatkan bersama-sama dengan daunnya. Daun juga nampak berlubang-lubang bekas gigitan dari tepi sampai ketulang utama, hingga habis hanya tinggal urat-uratnya saja.

b.      Pengendaliannya :
*      sebaiknya daun yang terkena segera dibuang atau dibakar,
*      apabila masih ada serangan maka dilakukan penyemperotan dengan insektisida. Insektisidanya yaitu Azodrin 15 WSC. Beberapa insektisida yang bisa di gunakan adalah Detacron 500 EC, Curacron 500 EC, Profile 450 EC.
*      Lakukan sanitasi lahan dengan benar.
*      Pasang perangkap kupu-kupu di beberapa tempat.
*      penyemprotan pestisida oraganik (dengan campuran bw.putih, cabe rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto) Penyemprotan dapat diulang setiap 7 hari sampai tanaman terbebas dari hama tersebut.

G.    Ulat Perusak Daun ( Spedoptera litura, Plusia calchites, dan Piezodorus sp. )
Ketiga jenis ulat ini sering menyerang dengan cara memakan daunnya. Srangga Spodoptera litura lebih dominan dari pada kedua jenis lainnya. Pada tingkat serangan parah, daun buncis bias dimakan habis.
a.      Pencegahan :
http://faedahjaya.com/images/stories/typo/special-7.pngLakukan sanitasi lahan dengan benar.
http://faedahjaya.com/images/stories/typo/special-7.pngPasang perangkap kupu – kupu di beberapa tempat.
Balurkan perangkap kupu – kupu yang berbentuk lem, seperti Cherry Glue dan Glumon,menggunakan kuas ke botol bekas air mineral atau potongan pipa PVC.
b.      Pemberantasan :
http://faedahjaya.com/images/stories/typo/special-7.pngJika di temukan telur-telurnya yang biasa menempel di balik daun, segera pungut, kemudian gerus dan kubur.
http://faedahjaya.com/images/stories/typo/special-7.pngJika serangan sudah tingkat yang parah, semprotkan insektisida yang tepat. Patuhi anjuran dosis sesuai yang tertera di label kemasan.
*      Insektisida yang bisa di gunakan diantaranya Metido 25 WP, Prevaton 250 EC, Decis 2,5 EC, Sumo 50EC, Buldok 25 EC.

Catatan khusus :
Waktu penyemprotan yang efektif antara pukul 08.00 – 11.00 atau pukul 15.00 – 18.00 yakni ketika turgor ( kandungan air tanaman ) tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Jika turgor tanaman dan kelembapan udara terlalu tinggi, maka dosis yang sebelumnya tepat akan menjadi rendah, sehingga tidak mempan. Sebaliknya, jika turgor tanaman terlalu rendah dengan terik tinggi, maka dosis yang semula tepat akan menjadi tinggi, sehingga ada kemungkinan terjadi efek terbakar oleh pestisida.

2.      Penyakit
1.      Penyakit Antraknosa.
Cendawan  Colletotrichum   lindemuthianum, termasuk dalam   famili  Melanconiaccae.

a.      Gejala :
Polong Buncis muda terdapat bercak-bercak kecil dengan bagian tepi warna coklat karat dengan warna kenerah-merahan. Bercak hitam atau coklat tua di bagian batang tanaman tua. Bentuknya tidak beraturan antara yang satu dengan yang lain, bila udara lembab akan terdapat spora yang berwarna kemerah-merahan.

b.      Pengendaliannya :
Ø  Sebaiknya dipilih bibit yang benar-benar bebas dari penyakit atau dapat juga dengan merendam benih dalam fungisida Agrosid 50SD sebelum ditanam.
Ø  Dengan penyemperotan fungisida Delsene Mx200, konsentrasi 1-2 gr/lt air.
Ø  Juga bisa dengan fungisida Velimek 80WP dengan konsentrasi 2-2,5gr/lt air.
Ø  memakai benih yang benar-benar bebas dari penyakit;
Ø  pergiliran tanaman, maksudnya untuk memotong siklus hidup cendawan tersebut. Pergiliran tersebut dapat dengan tanaman lobak, wortel atau kol bunga;
Ø  penyemprotan pestisida organik.


B.     Penyakit Embun Tepung

Cendawan Erysiphe polygoni, yang termasuk dalam famili Erysiphaceae. 

a.      Gejala :
Daun, batang, bunga dan buah berwarna putih keabuan (kelihatan seperti kain beludru). Apabila serangan pada bunga ringan, maka polong masih dapat terbentuk. Namun bila gagal serangannya berat akan dapat menggagalkan proses pembuahan, bunga menjadi kering dan akhirnya mati. Bila polong yang diserang maka polong tidak gugur, tetapi akan meninggalkan bekas berwarna cokelat surat sehingga kualitasnya menurun. 



b.      Pengendaliannya :
o   Bagian yang sudah terserang sebaiknya dipotong atau dibakar.
o   Dapat juga disemprot dengan fungisida Morestan 25WP, konsentrasinya 0,5 - 1 gr/lt air dan volume larutan 1.000 lt/ha.
o   dapat juga disemprot dengan pstisida organik. Atau dapat juga dilakukan penghembusasn dengan tepung belerang.
 

C.    Penyakit Layu

Bakteri Pseudomonas sollanacearum. Bakteri ini termasuk dalam famili pseudomonadeceae.

a.      Gejala :
Tanaman akan terlihat layu, kuning dan kerdil. Bila batang tanaman yang diserang dipotong melintang, maka akan terlihat warna coklat atau dipijat akan keluarlah lendir yang berwarna putih. Kadang-kadang warna cokelat ini bisa sampai ke daun. Akar yang sakit juga berwarna cokelat.

b.      Pengendaliannya :
*       Dilakukan dengan cara menyiram tanaman dengan air yang bebas dari penyakit,
*       Bila hendak membuat persemaian lebih baik tanah disterilisasi dulu dengan air panas 100° C.
*       Dilakukan dengan penyemprotan fungisida Agrept 20 WP dengan konsentrasi 0,5 - 1/lt air.
*       Dengan rotasi tanaman selama 2 tahun;

Penyebab layu dengan gejala diatas disebabkan oleh cendawan Fusarium oxyporum, termasuk dalam famil Stilbellaceae.
a.      Gejala 2: 
Gejala yang terlihat seperti gejala 1 di atas dengan sedikit perbedaan. Perbedaannya yaitu bila batang yang terserang dipijit tidak mengeluarkan lendir.

b.      Pengendalian: 
Cara pengendalian hampir sama dengan cara pengendalian Pseudomonas. Untuk mengendalikan cendawan ini dapat digunakan campuran jelatang, kapur, kelor, mulsa daun bambu (pestisi organik) ini disemprotkan pada semua batang merata.
 
D.    Penyakit Bercak daun
Cendawan Cercospora canescens, termasuk dalam famili Dematiaceae. Sporanya dapat disebarkan melalui air hujan, angin, serangga, alat-alat pertanian, manusia dan lain-lain. 

a.      Gejala :
Daun bercak kecil berwarna coklat kekuningan lama kelamaan bercak akan melebar dan bagian tepinya terdapat pita berwarna kuning. Akibat lebih parah, dau akan menjadi layu dan berguguran. Bila sampai menyerang polong, maka polong akan bercak kelabu dan biji yang terbentuk kurang padat dan ringan.

b.      Pengendaliannya :
v  Sebelum ditanam benih buncis direndam dulu dalam air panas dengan suhu 48° C selama 30 menit. Bilas dengan air dingin dan keringkan.
v  Dengan penyemprotan menggunakan Baycor 300EC, konsentrasi 0,5 - 1 lt/ha. Bisa juga menggunakan Bayleton 250EC, konsentrasi 0,25-0,5 lt/ha.
v  rotasi tanaman
v  memotong bagaian tanaman yang telah terserang;
v  penyemprotan dengan pestisida organik. Penyemprotan diulang dengan selang waktu 5-15 hari.


E.     Penyakit Hawar Daun
Bakteri Xanthomonas campestris dari famili Pseudomonadaceae. Bakteri ini dapat berkembang pada suhu lebih dari 20 derajat C dan suhu optimum 30 derajat C. Hidupnya bisa bertahan beberapa tahun di dalam biji, tanah dan sisa-sisa tanaman yang sakit.

a.      Gejala :
Pertama-tama terlihat bercak kuning dibagian tepi daun, kemudian meluas menuju tulang bagian tengah. Daunnya terlihat layu, kering dan coklat kekuningan. Bila serangannya hebat, daun terlihat berwarna kuning, seluruhnya dan akhirnya rontok, gejala tersebut dapat meluas kebatang, sehingga lama kelamaan tanaman akan mati.

b.      Pengendaliannya :
*      Dengan cara memilih benih yang berkwalitas baik. Perendaman benih dalam Sublimat dengan dosis 1gr /Lt air selama 30 menit.
*      memakai benih yang bebas dari penyakit
*      menjaga kebersihan lahan.


F.     Penyakit Busuk Lunak
Bakteri Erwinia carotopora, termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini hanya menyerang bila ada bagian tanaman yang luka, misalnya gigitan ulat atau memang sudah sakit karena penyakit lain. Serangan ini dapat terjadi di lapangan atau di penyimpanan.

a.      Gejala :
Daun bebercak, berair warnanya menjadi kecoklatan. Gejala ini cepat menjalar ke seluruh bagian tanaman. Sehingga tanaman menjadi lunak, berlendir dan berbau busuk. Kadang-kadang juga bisa roboh bila yang terserang batangnya
b.      Pengendaliannya :
ü  Tanaman yang sudah terserang berat sebaiknya dibuang dan di bakar,
ü  Dapat dilakukan dengan menyemprotkan Cupravit OB-21, dengan konsentrasi 4gr/lt air, Delsene Mx200, konsentrasi 2-4 gr/lt air.
ü  Menjaga kebersihan lingkungan tanaman,
ü  Penyemprotan dengan pestisida organik Penyemprotan dapat dilakukan setiap 7-10 hari sekali. Penggunaan pestisida dapat dengan dioleskan pada bagian tanaman yang sakit.
G.    Penyakit Karat
Cendawan Uromyces appendiculatus, termasuk dalam ordo Uredinales. Cendawan ini masih dapat bertahan pada bagian tanaman yang sakit walaupun iklimnya kering. Serangan akan kembali menghebat pada musim hujan. Penyebarannya dapat melalui hembusan angin, percikan atau aliran air, serangga maupun terbawa dalam pengangkutan bibit-bibit tanaman di daerah lain

a.      Gejala :
Pada jaringan daun terdapat bintik-bintik kecil berwarna coklat, baik dibagian daun sebelah atas maupun sebelah bawah. Biasanya dikelilingi dengan jaringan khlorosis. varietes yang tahan, gejalanya hanya berupa bintik-bintik cokelat saja.
b.      Pengendaliannya :
*       Dapat ditanam varitas buncis yang tahan dengan penyakit karat yaitu ; Manoa Wonder.
*       Tanaman yang terserang berat sebaiknya dicabut dan dibakar.
*       Menggunakan pestisida organik Penyemprotannya dilakukan bila intensitas serangan mencapai 10% dengan selang waktu 7 hari.
*       Jika gejala awal sudah muncul, segera semprot dengan fungisida yang tepat.
*       Beberapa fungisida yang bisa di gunakan adalah Score 250 EC, Previcur N 722 SL, Chocrick 25 WP, Topsin M 40 WP, Topsindo 40 WP.
*       Untuk memperoleh hasil yang maksimal dan membentuk antibodi bisa di tambahkan Calsium MULTI-CAL dengan dosis 5 sendok per 14 liter air.

H.    Penyakit Damping Off

Cendawan Phytium sp, termasuk dalam famili Phytiaceae. Penularannya dapat melalui tanah maupun biji. Serangannya akan sangat hebat bila suhu dan kelembaban udara cukup tinggi. 


a.      Gejala :
Bagian batang bawah yang terletak dibagian keping biji terlihat berwarna putih pucat karena mengalami kerusakan khlorofil. Akibatnya terjadi nekrosa secara cepat, jaringan yang berada di atas tanah menjadi mengkerut dan mengecil sehingga batang tidak kuat lagi menyangga kotiledon dan kemudian tanaman menjadi roboh.

b.      Pengendaliannya :
*      Siram tanaman dengan air yang bebas penyakit, media semai yang dipakai juga yang telah disterilkan terlebih dahulu.
*      Bisa juga menggunakan Antracol 70WP, konsentrasi 2gr/lt air,
*      Menyemprotkan pestisida organik yang telah disesuaikan.

I.       Penyakit ujung keriting
Virus mosaik keriting, yang penularannya biasanya melalui vektor serangga yaitu sejenis kutu loncat dari famili Yassidae. Dari tingkat muda sampai dewasa, kutu ini dapat menjadi pembawa (carrier) virus tersebut. 

a.      Gejala: 
Daun-daun muda menjadi keriting dan berwarna kuning, sedang daun yang sudah tua menggulung atau memilin. Biasanya daun-daun terasa lebih kaku, tangkai daun mengeriting ke bawah dan batang tidak normal. Tanaman muda yang terserang menjadi kerdil.

b.      Pengendalian: 
ü  Menanam bibit yang tahan penyakit seperti spurt dan strike;
ü  Mencabut dan membakar tanaman yang telah terserang penyakit;
ü  Melakukan penyemprotan pestisida organik